SAMIN
VERSUS SEMEN
Oleh: Nur Said
Ketua Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus; Email: nursaid@ymail.com
Oleh: Nur Said
Ketua Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus; Email: nursaid@ymail.com
“Wong-wong sing sekolah malah dadi
penonton? Wong Sikep kan sering dianggep wong sing tertinggal, dalile yo mung
pokoke…Ayolah itung-itungan karo pihak pemkab, anane pabrik semen iku, wong
pira sing disejaterahno? Nganti kapan? Aku yo tak gawe itungan.
Kesejahteraan sing berkelanjutan iku kaya apa?”
Orang-orang yang berpendidikan di
sekolah malah menjadi penonton? Orang Sikep seringkali dianggap sebagai
kelompok tertinggal, sehingga yang dikedepankan adalah “pokoke” (pokoknya, anti
perhitungan -pen). Silahkan Pemkab membuat kalkulasi, biar kami juga membuat
kalkulasi tandingan. Keberadaan pabrik semen itu bisa mensejahterakan siapa
saja dan dalam jangka waktu berapa lama? Kesejahteraan yang berkelanjutan itu
seperti apa?
Beberapa hari lalu penulis bersama
sejumlah mahasiswa mata kuliah “{erbandingan Agama” melakukan Kuliah
Berbasis Realitas (KB) di komunitas Sedelur Sikep yang sering dikenal sebagan
SAMIN. Dalam masyarakat mereka banyak mendapat stigma negatif. Namun setelah
lebih dalam mengenal mereka, ada beberapa sistem nilai yang diugemi (dipegang
teguh) dan layak sebagai pelajaran bagi para pembaca yang budiman.
Kutipan di pembuka tulisan adalah
sebagian saja ekspresi galau dari Gunritno, salah seorang masyarakat adat
Sedulur Sikep atau populer disebut komunitas Samin menanggapi rencana
industrialisan pembangunan pabrik semen, di Sukolilo, Pati beberapa tahun lalu
ketika dalam suatu obrolan ringan dengan penulis. Apa yang dirasakan oleh salah
seorang warga Sedulur Sikep di atas sangat relevan dijadikan bahan refleksi
dunia pendidikan yang sedang mengalami disorientasi karena pendidikan kita
meski telah mengalami berbagai perubahan kurikulum, namun tetap saja yang
menonjol orientasi pada pasar kerja yang tercerabut dari nilai-nilai tradisi
dan konteks sosial lingkungannya.
Hal ini mengesankan peserta didik
seakan hanya dipersiapkan “tukang-tukang” yang siap sebagai tenaga kerja yang
menghasilkan keuntungan material (profit oriented). Maka tak berlebihan kalau
Gus Mus menengarai fenomena bangsa ini bak hidup di “negeri daging”. Dalam
sajak Gus Mus bertajuk “Negeri Daging” dinyatakan:
“di negeri
daging
setiap hari banyak orang
asyik memperagakan daging
setiap hari banyak orang
hilir-mudik menjajakan daging
di negeri daging
setiap hari banyak orang mati
memperebutkan daging
di negeri daging
jagal-jagal berkeliaran
daging-daging berserakan
setiap hari banyak orang
asyik memperagakan daging
setiap hari banyak orang
hilir-mudik menjajakan daging
di negeri daging
setiap hari banyak orang mati
memperebutkan daging
di negeri daging
jagal-jagal berkeliaran
daging-daging berserakan
Ketika pendidikan cenderung
materialistik, segalanya diukur dari untung-rugi secara ekonomik belaka, maka
hal ini sama artinya dengan mengkondisikan peserta didik menjadi
hedonistik-materialistik, terasingkan dari nilai-nilai moral-spiritual.
Dampaknya, mereka akan terasing di
lingkungannya sendiri atau dalam bahasa jawa mereka sebagai “wong jowo ananging
ora njawani”, bahasa Jawa tidak akrab, warisan-warisan budaya Jawa juga tidak
peduli. Maka jangan heran kalau kekayaan budaya Jawa yang kaya pada akhirnya
diangkut ke negeri asing. Tentu masih segar diingatan kasus Reog Ponorogo yang
diklaim Malaysia, perburuan naskah-naskah klasik nusantara oleh berbagai
kelompok negara asing, serta kasus “lagu sayange”. Selama sang pemiliki
budaya tak lagi peduli, maka cepat atau lampat kuasa milik akan direbut oleh
bangsa asing.
Yang lebih parah lagi, ketika
lingkungan kelompok terdidik terancam bencana akibat ulah dari para kuam
kapitalis, mereka tak lagi sensitif karena nuraninya terselubing oleh semangat hedonis
sesaat. Fenomena tersebut sebagian saja potret transisi pendidikan yang oleh
Gus Mus disebutnya sebagai “negeri daging”. Ada apa dengan dunia pendidikan
kita?
Maka ketika Sedulur Sikep menilai
orang sekolahan bisanya hanya menjadi penonton atas nasib dan masa depan
kelestarian lingkungan; kesuburan tanah, air dan udara bersih, tradisi bertani,
tentunya perlu dijadikan bahan refleksi atas konsep dan implementasi kurikulum
di berbagai jenis dan jenjang sekolah selama ini.
Pelajaran Samin menolak (Industrialisasi) Semen
Komunitas Sedulur Sikep menjadi
pembicaraan hangat setelah keberaniannya bersama kelompok petani lain menolak
kebijakan rencana pembangunan pabrik semen di gunung Kendeng, Sukolilo, Pati.
Komunitas Sedulur Sikep adalah sekelompok masyarakat adat yang tinggal di
pergunungan Kendeng, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati,
Propinsi Jawa Tengah. Mereka memiliki tradisi yang unik dan kuat diantaranya
adalah tidak mau sekolah formal, suka memakai celana pendek hitam, tidak mau
berdagang, pantang poligami dan memilih bertani sebagai penopang
hidupnya.Komitmen mereka sebagai petani, tidak mau berdagang dan tidak mau
sekolah seringkali membuat kebanyakan orang sering menilai mereka sebagai
“orang yang bodoh” yang hanya mengandalkan “pokoke” dalam hidup (Nur Said,
2009).
Namun di tengah stereotipe miring
seperti itu, ternyata Sedulur Sikep memiliki kedalaman nilai dan peduli atas
kelestarian lingkungan alam. Mereka paham akar budaya dan seluk beluk
lingkungannya. Kegetolan Sedulur Sikep menolak industri semen bukan sekedar
masalah ekonomi (materi) semata, tetapi terkait masa depan lingkungan,
terancamnya sumber mata air, polusi udara, banjir dan eksistensi sosial dan
budaya. Maka baginya industri semen akan berdampak pada terjadinya
bencana jangka panjang baik bencana sosial, bencana budaya maupun bencana alam.
Suatu kejadian disebut bencana
apabila menyebabkan terjadinya ancaman dan gangguan bagi kelangsungan kehidupan
dan penghidupan masyarakat (komunitas tertentu) baik dalam bentuk kerugian
korban jiwa, kerusakan lingkungan, harta benda (UU RI No. 24 tahun 2007).
Termasuk ancaman kelangsungan hidup tentu di dalamnya adalah nilai-nilai
sosio-kultural yang tercerabut ketika suatu peristiwa itu terjadi.
Maka ketika perusahaan semen
didirikan di kawasan lingkungan kemunitas Sedulur Sikep yang mengharuskan
membebaskan puluhan hektar lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan bagi
mereka maka hal ini adalah bagian dari “bencana budaya” (Shri Ahimsa-Putra,,
2006) yang dialami oleh Sedulur Sikep dan juga masyarakat petani
lainnnya. Bagi Sedulur Sikep pilihannya sebagai petani bukannya sekedar
untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi hal tersebut sebagai wujud “kesejatian
dirinya” dalam memaknai hidup sehingga sarat dengan nilai sehingga
terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari yang belakangan populer dengan
budaya saminisme.
Dengan demikian pada tingkat
tertentu Sedulur Sikep telah mencoba melakukan upaya mitigasi bencana
(pengurangan resiko bencana) di sekitar pantura dan pegunungan Kendeng. Hal ini
berarti komunitas Samin sejak dini mereka telah mengantispasi bahaya-bahaya
bencana yang sebenarnya telah sering terjadi di sekitar Sukolilo terutama
bencana banjir. Mitigasi bencana, prinsipnya adalah berupa tindakan-tindakan
untuk mengurangi pengaruh-pengaruh bahaya sebelum bahaya itu terjadi. Istilah
itu berlaku untuk cakupan yang luas dari aktivitas-aktivitas dan
tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali dengan tindakan fisik
seperti membangun bangunan yang lebih kuat hingga aktivitas yang prosedural
seperti teknik-teknik yang baku dalam penanggulangan suatu bahaya (dikutip dari
modul mitigasi bencana, UNDP Program, 1998).
Fenomena Sedulur Sikep dalam menolak
pabrik semen adalah bagian dari kontrol masyarakat atas tindakan-tindakan
perlindungan sumber mata air dan kekuatan serapan bukit kartz agar mampu
menyimpan air pada saat air melimpah, sehingga bahaya banjir dan kekeringan
bisa terhindari. Yang menjadi pertanyaan besar kemudian, mengapa justru
komunitas Sedulur Sikep yang paling getol menolak rencana pendirian pabrik
semen di pegenungan Kendeng, yang justru tidak pernah mengenyem bangku
sekolahan? Lantas dimana kaum terpelajar dan cendekia dalam menghadapi
isu lingkungan yang berdampak bagi kelangsungan keseimbangan alam di masa
depan?
Pendidikan Ramah Lingkungan melalui Muatan Lokal
Tampaknya generasi ini sudah
terasing atas lingkungannya sendiri sebagai dampak dari pendidikan yang
tereduksi hanya sekedar untuk orientasi kerja. Generasi dididik sekedar untuk
mengurusi daging (materi), sementara aspek nilai yang immateri kurang
mendapatkan proporsinya. Bahkan mulok seringkali sekedar mengedepankan dunia
kerja saja, misalnya karena kota wisata lalu muloknya bahasa Inggris, kota
industri muloknya menejemn ekspor-impor dan seterusnya.
Maka sudah saatnya mengembangkan
muatan lokal dengan benar-benar berbasis pada potensi lokal baik potensi
positif maupun potensi negatif. Misalnya potensi bencana di setiap daerah
adalah berbeda, maka bagaimana memberikan bekal bagi peserta didik dalam
menangani bencana dan meminimalisir bahaya bencana.
Di daerah pantura Kudus, Pati,
Jepara, Demak hampir semua orang tahu setiap tahun menjadi langganan bencana
banjir. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi setiap satuan pendidikan
sebagai pertimbangan dalam menanganinya. Karena itu tak berlebihan kalau
menjadikan “Pembelajaran Konservasi, Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana
Alam” sebagai bagian dari alternatif muatan lokal terobosan di setiap satuan
pendidikan. Apalagi dunia sedang dihadapkan pada ancaman pemanasan global
(global warming) yang menuntut perhatian dari setiap elemen masyarakat.
Dengan cara ini maka pendidikan
telah turut terlibat dalam menjaga kesimbangan lokal dan global, karena itu
dalam wacana kurikulum terkini mulai muncul juga isu “trans-nasional
kurikulum”, yakni menjadikan pembelajaran sebagai media menfasilitasi peserta
didik untuk melek berbagai problem kemanusiaan mulai dari tingkat lokal,
nasional hingga internasional.
Dalam banyak hal ternyata Sedulur
Sikep telah melakukan dan mempertahankan budayanya dalam bergelut dengan alam
secara harmoni, santun dan penuh dengan kepedulian yang tinggi. Maka tidak ada
salahnya dalam konservasi alam sebagai dasar mulok bisa belajar kepada komunitas
Sedulur Sikep. Karena hikmah itu bisa ditemukan dimana-mana. Maka belajarlah
meski ke negeri Cina, atau dengan kata lain belajarlah tentang alam meski
dengan Sedulur Sikep.
Penutup
Pendidikan digagas tak lain untuk
mempertahankan eksisitensi kemanusiaan secara utuh menembus dimensi fisik
maupun psikis. Karena itu pendidikan tidak bisa direduksi hanya sekedar
mengantarkan peserta didik untuk memperoleh kepuasan material belaka, sementara
yang immateriaal seperti nilai sosial, spiritual dan transendental diabaikan.
Karena itu kurikulum harus dikembangkan berdasarkan kondisi sosial, budaya dan
sejarah dimana satuan pendidikan itu diselenggarakan sehingga terbangun proses
pendidikan dan pembelajaran berbasis pada lokasi (place-based education).
Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, Heddy Shri,
“Gempa Budaya, Budaya Bencana dan Otonomi Daerah, Tafsir Antropologi atas
Dampak Gempa Bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai “Teks”, Makalah
disampaikan dalam diskusi Nasional “Otonomi Daerah dalam Perspektif Sejarah”,
di Yogyakarta, 6-8 Nopember 2006.
Said, Nur, Strategi Saminisme Dalam Membendung Bencana Alam; Perlawanan Komunitas Sedulur Sikep terhadap Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Sukolilo Pati, Yogyakarta: CRCS Universitas Gajah Mada, 2009.
Kemenge BPPN/BPN, “Pengurangan Resiko Bencana”, dalam http://www.undp.or.id/pubs/docs/RAN%20PRB%20ID.pdf (diakses 1 Desember 1 Maret 2014).
Said, Nur, Strategi Saminisme Dalam Membendung Bencana Alam; Perlawanan Komunitas Sedulur Sikep terhadap Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Sukolilo Pati, Yogyakarta: CRCS Universitas Gajah Mada, 2009.
Kemenge BPPN/BPN, “Pengurangan Resiko Bencana”, dalam http://www.undp.or.id/pubs/docs/RAN%20PRB%20ID.pdf (diakses 1 Desember 1 Maret 2014).
Sumber Berita: www.stainkudus.ac.id
No comments:
Post a Comment