Saturday, 19 September 2015

SAMIN VERSUS SEMEN

SAMIN VERSUS SEMEN
Oleh: Nur Said
Ketua Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus; Email: nursaid@ymail.com


“Wong-wong sing sekolah malah dadi penonton? Wong Sikep kan sering dianggep wong sing tertinggal, dalile yo mung pokoke…Ayolah itung-itungan karo pihak pemkab, anane pabrik semen iku, wong pira sing disejaterahno?  Nganti kapan? Aku yo tak gawe itungan. Kesejahteraan sing berkelanjutan iku kaya apa?”
Orang-orang yang berpendidikan di sekolah malah menjadi penonton? Orang Sikep seringkali dianggap sebagai kelompok tertinggal, sehingga yang dikedepankan adalah “pokoke” (pokoknya, anti perhitungan -pen). Silahkan Pemkab membuat kalkulasi, biar kami juga membuat kalkulasi tandingan. Keberadaan pabrik semen itu bisa mensejahterakan siapa saja dan dalam jangka waktu berapa lama? Kesejahteraan yang berkelanjutan itu seperti apa?

Beberapa hari lalu penulis bersama sejumlah mahasiswa mata kuliah “{erbandingan Agama”  melakukan Kuliah Berbasis Realitas (KB) di komunitas Sedelur Sikep yang sering dikenal sebagan SAMIN. Dalam masyarakat mereka banyak mendapat stigma negatif. Namun setelah lebih dalam mengenal mereka, ada beberapa sistem nilai yang diugemi (dipegang teguh) dan layak sebagai pelajaran bagi para pembaca yang budiman.
 
Kutipan di pembuka tulisan adalah sebagian saja ekspresi galau dari Gunritno, salah seorang masyarakat adat Sedulur Sikep atau populer disebut komunitas Samin menanggapi rencana industrialisan pembangunan pabrik semen, di Sukolilo, Pati beberapa tahun lalu ketika dalam suatu obrolan ringan dengan penulis. Apa yang dirasakan oleh salah seorang warga Sedulur Sikep di atas sangat relevan dijadikan bahan refleksi dunia pendidikan yang sedang mengalami disorientasi karena pendidikan kita meski telah mengalami berbagai perubahan kurikulum, namun tetap saja yang menonjol orientasi pada pasar kerja yang tercerabut dari nilai-nilai tradisi dan konteks sosial lingkungannya.
 
Hal ini mengesankan peserta didik seakan hanya dipersiapkan “tukang-tukang” yang siap sebagai tenaga kerja yang menghasilkan keuntungan material (profit oriented). Maka tak berlebihan kalau Gus Mus menengarai fenomena bangsa ini bak hidup di “negeri daging”. Dalam sajak Gus Mus bertajuk “Negeri Daging” dinyatakan:
 
     “di negeri daging
     setiap hari banyak orang
     asyik memperagakan daging
     setiap hari banyak orang
     hilir-mudik menjajakan daging
     di negeri daging
     setiap hari banyak orang mati
     memperebutkan daging
     di negeri daging
     jagal-jagal berkeliaran
     daging-daging berserakan
 
Ketika pendidikan cenderung materialistik, segalanya diukur dari untung-rugi secara ekonomik belaka, maka hal ini sama artinya dengan mengkondisikan peserta didik menjadi hedonistik-materialistik, terasingkan dari nilai-nilai moral-spiritual.
 
Dampaknya, mereka akan terasing di lingkungannya sendiri atau dalam bahasa jawa mereka sebagai “wong jowo ananging ora njawani”, bahasa Jawa tidak akrab, warisan-warisan budaya Jawa juga tidak peduli. Maka jangan heran kalau kekayaan budaya Jawa yang kaya pada akhirnya diangkut ke negeri asing. Tentu masih segar diingatan kasus Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia, perburuan naskah-naskah klasik nusantara oleh berbagai kelompok negara asing, serta kasus “lagu sayange”.  Selama sang pemiliki budaya tak lagi peduli, maka cepat atau lampat kuasa milik akan direbut oleh bangsa asing.
 
Yang lebih parah lagi, ketika lingkungan kelompok terdidik terancam bencana akibat ulah dari para kuam kapitalis, mereka tak lagi sensitif karena nuraninya terselubing oleh semangat hedonis sesaat. Fenomena tersebut sebagian saja potret transisi pendidikan yang oleh Gus Mus disebutnya sebagai “negeri daging”. Ada apa dengan dunia pendidikan kita?
 
Maka ketika Sedulur Sikep menilai orang sekolahan bisanya hanya menjadi penonton atas nasib dan masa depan kelestarian lingkungan; kesuburan tanah, air dan udara bersih, tradisi bertani, tentunya perlu dijadikan bahan refleksi atas konsep dan implementasi kurikulum di berbagai jenis dan jenjang sekolah selama ini.

Pelajaran Samin menolak (Industrialisasi) Semen
Komunitas Sedulur Sikep menjadi pembicaraan hangat setelah keberaniannya bersama kelompok petani lain menolak kebijakan rencana pembangunan pabrik semen di gunung Kendeng, Sukolilo, Pati. Komunitas Sedulur Sikep adalah sekelompok masyarakat adat yang tinggal di pergunungan Kendeng, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Propinsi Jawa Tengah. Mereka memiliki tradisi yang unik dan kuat diantaranya adalah tidak mau sekolah formal, suka memakai celana pendek hitam, tidak mau berdagang, pantang poligami dan memilih bertani sebagai penopang hidupnya.Komitmen mereka sebagai petani, tidak mau berdagang dan tidak mau sekolah seringkali membuat kebanyakan orang sering menilai mereka  sebagai “orang yang bodoh” yang hanya mengandalkan “pokoke” dalam hidup (Nur Said, 2009).
Namun di tengah stereotipe miring seperti itu, ternyata Sedulur Sikep memiliki kedalaman nilai dan peduli atas kelestarian lingkungan alam. Mereka paham akar budaya dan seluk beluk lingkungannya. Kegetolan Sedulur Sikep menolak industri semen bukan sekedar masalah ekonomi (materi) semata, tetapi terkait masa depan lingkungan, terancamnya sumber mata air, polusi udara, banjir dan eksistensi sosial dan budaya.  Maka baginya industri semen akan berdampak pada terjadinya bencana jangka panjang baik bencana sosial, bencana budaya maupun bencana alam.
Suatu kejadian disebut bencana apabila menyebabkan terjadinya ancaman dan gangguan bagi kelangsungan kehidupan dan penghidupan masyarakat (komunitas tertentu) baik dalam bentuk kerugian korban jiwa, kerusakan lingkungan, harta benda (UU RI No. 24 tahun 2007). Termasuk ancaman kelangsungan hidup tentu di dalamnya adalah nilai-nilai sosio-kultural yang tercerabut ketika suatu peristiwa itu terjadi.
Maka ketika perusahaan semen didirikan di kawasan lingkungan kemunitas Sedulur Sikep yang mengharuskan membebaskan puluhan hektar lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan bagi mereka maka hal ini adalah bagian dari “bencana budaya” (Shri Ahimsa-Putra,, 2006) yang dialami oleh Sedulur Sikep dan juga masyarakat petani lainnnya.  Bagi Sedulur Sikep pilihannya sebagai petani bukannya sekedar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi hal tersebut sebagai wujud “kesejatian dirinya” dalam memaknai hidup sehingga sarat dengan nilai sehingga terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari yang belakangan populer dengan budaya saminisme.
Dengan demikian pada tingkat tertentu Sedulur Sikep telah mencoba melakukan upaya mitigasi bencana (pengurangan resiko bencana) di sekitar pantura dan pegunungan Kendeng. Hal ini berarti komunitas Samin sejak dini mereka telah mengantispasi bahaya-bahaya bencana yang sebenarnya telah sering terjadi di sekitar Sukolilo terutama bencana banjir. Mitigasi bencana, prinsipnya adalah berupa tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh bahaya sebelum bahaya itu terjadi. Istilah itu berlaku untuk cakupan yang luas dari aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali dengan tindakan fisik seperti membangun bangunan yang lebih kuat hingga aktivitas yang prosedural seperti teknik-teknik yang baku dalam penanggulangan suatu bahaya (dikutip dari modul mitigasi bencana, UNDP Program, 1998).
Fenomena Sedulur Sikep dalam menolak pabrik semen adalah bagian dari kontrol masyarakat atas tindakan-tindakan perlindungan sumber mata air  dan kekuatan serapan bukit kartz agar mampu menyimpan air pada saat air melimpah, sehingga bahaya banjir dan kekeringan bisa terhindari. Yang menjadi pertanyaan besar kemudian, mengapa justru komunitas Sedulur Sikep yang paling getol menolak rencana pendirian pabrik semen di pegenungan Kendeng, yang justru tidak pernah mengenyem bangku sekolahan?  Lantas dimana kaum terpelajar dan cendekia dalam menghadapi isu lingkungan yang berdampak bagi kelangsungan keseimbangan alam di masa depan?

Pendidikan Ramah Lingkungan melalui Muatan Lokal
Tampaknya generasi ini sudah terasing atas lingkungannya sendiri sebagai dampak dari pendidikan yang tereduksi hanya sekedar untuk orientasi kerja. Generasi dididik sekedar untuk mengurusi daging (materi), sementara aspek nilai yang immateri kurang mendapatkan proporsinya. Bahkan mulok seringkali sekedar mengedepankan dunia kerja saja, misalnya karena kota wisata lalu muloknya bahasa Inggris, kota industri muloknya menejemn ekspor-impor dan seterusnya.
Maka sudah saatnya mengembangkan muatan lokal dengan benar-benar berbasis pada potensi lokal baik potensi positif maupun potensi negatif. Misalnya potensi bencana di setiap daerah adalah berbeda, maka bagaimana memberikan bekal bagi peserta didik dalam menangani bencana dan meminimalisir bahaya bencana.
Di daerah pantura Kudus, Pati, Jepara, Demak hampir semua orang tahu setiap tahun menjadi langganan bencana banjir. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi setiap satuan pendidikan sebagai pertimbangan dalam menanganinya. Karena itu tak berlebihan kalau menjadikan “Pembelajaran Konservasi, Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Alam” sebagai bagian dari alternatif muatan lokal terobosan di setiap satuan pendidikan. Apalagi dunia sedang dihadapkan pada ancaman pemanasan global (global warming) yang menuntut perhatian dari setiap elemen masyarakat.
Dengan cara ini maka pendidikan telah turut terlibat dalam menjaga kesimbangan lokal dan global, karena itu dalam wacana kurikulum terkini mulai muncul juga isu “trans-nasional kurikulum”, yakni menjadikan pembelajaran sebagai media menfasilitasi peserta didik untuk melek berbagai problem kemanusiaan mulai dari tingkat lokal, nasional hingga internasional.
Dalam banyak hal ternyata Sedulur Sikep telah melakukan dan mempertahankan budayanya dalam bergelut dengan alam secara harmoni, santun dan penuh dengan kepedulian yang tinggi. Maka tidak ada salahnya dalam konservasi alam sebagai dasar mulok bisa belajar kepada komunitas Sedulur Sikep. Karena hikmah itu bisa ditemukan dimana-mana. Maka belajarlah meski ke negeri Cina, atau dengan kata lain belajarlah tentang alam meski dengan Sedulur Sikep.
Penutup
Pendidikan digagas tak lain untuk mempertahankan eksisitensi kemanusiaan secara utuh menembus dimensi fisik maupun psikis. Karena itu pendidikan tidak bisa direduksi hanya sekedar mengantarkan peserta didik untuk memperoleh kepuasan material belaka, sementara yang immateriaal seperti nilai sosial, spiritual dan transendental diabaikan. Karena itu kurikulum harus dikembangkan berdasarkan kondisi sosial, budaya dan sejarah dimana satuan pendidikan itu diselenggarakan sehingga terbangun proses pendidikan dan pembelajaran berbasis pada lokasi (place-based education).  
Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra,  Heddy Shri, “Gempa Budaya, Budaya Bencana dan Otonomi Daerah, Tafsir Antropologi atas Dampak Gempa Bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai “Teks”, Makalah disampaikan dalam diskusi Nasional “Otonomi Daerah dalam Perspektif Sejarah”, di Yogyakarta, 6-8 Nopember 2006.  
Said, Nur, Strategi Saminisme Dalam Membendung Bencana Alam; Perlawanan Komunitas Sedulur Sikep terhadap Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Sukolilo Pati, Yogyakarta: CRCS Universitas Gajah Mada, 2009.
Kemenge BPPN/BPN, “Pengurangan Resiko Bencana”, dalam http://www.undp.or.id/pubs/docs/RAN%20PRB%20ID.pdf (diakses 1 Desember 1 Maret 2014).


Sumber Berita: www.stainkudus.ac.id



No comments:

Post a Comment